Hati yang Perlahan Berpaling

Renungan Harian / 29 April 2026

Hati yang Perlahan Berpaling
Lori Official Writer
      28

1 Raja-Raja 11:4

"Sebab pada waktu Salomo sudah tua, isteri-isterinya itu mencondongkan hatinya kepada allah-allah lain, sehingga ia tidak dengan sepenuh hati berpaut kepada TUHAN, Allahnya, seperti Daud, ayahnya."

 

 

Apa kabar Anda di pagi ini? Saya berdoa supaya setiap Anda dalam sukacita dan damai Tuhan.

Ada satu pertanyaan sederhana yang saya ingin Anda jawab sebelum kita belajar satu kebenaran Firman Tuhan hari ini: "Suara siapa yang paling keras Anda dengarkan belakangan ini?"

Mungkin pertanyaan itu terasa ringan. Tapi setelah kita merenungkan kisah Raja Salomo hari ini, saya percaya pertanyaan itu justru bisa menjadi salah satu pertanyaan terpenting dalam hidup kita.

Salomo adalah sosok yang luar biasa. Ia adalah putra Raja Daud, raja yang diurapi Tuhan dan dekat dengan hati-Nya. Salomo mewarisi takhta itu, dan lebih dari itu — ia diberi karunia hikmat yang tidak dimiliki manusia manapun. Di bawah kepemimpinannya, Israel mengalami damai dan kemakmuran yang belum pernah ada sebelumnya. Sungguh, awal perjalanan Salomo adalah kisah yang indah. Tetapi kisah itu tidak berakhir dengan indah.

Di masa tuanya, Salomo mulai berubah. Bukan secara tiba-tiba — melainkan perlahan-lahan, hampir tidak terasa. Ia memiliki ratusan istri yang sangat ia kasihi. Ia menyayangi mereka, terikat pada mereka sampai akhirnya dia menyembah ilah lain.

Seperti disampaikan dalam 1 Raja-Raja 11:4, "Sebab pada waktu Salomo sudah tua, isteri-isterinya itu mencondongkan hatinya kepada allah-allah lain, sehingga ia tidak dengan sepenuh hati berpaut kepada TUHAN, Allahnya, seperti Daud, ayahnya."

Salomo terpengaruh dengan bujukan itu dan hatinya pun berpaling. Meskipun ia dikarunia hikmat, tetapi itupun dikalahkan oleh pilihan hatinya sendiri.

Kita mungkin berpikir: "Harusnya dengan hikmat sebesar itu, Salomo tahu dong mana yang benar?" Ya, benar! Tetapi itulah yang membuat kisah ini begitu menyedihkan. Masalah Salomo bukan kurangnya hikmat. Masalahnya adalah ia membiarkan suara orang-orang di sekitarnya terdengar paling keras di dalam hatinya. Kenyamanan yang ia nikmati, cinta yang ia rasakan, kedekatan dengan istri-istrinya — semua itu perlahan menggeser fokusnya dari Tuhan. Akibatnya, iman yang dibangun sejak muda itu terkikis perlahan hingga di akhir perjalanan hidupnya ia justru berpaling menyembah allah lain.

Di masa ini, kita juga rentan mengalami hal serupa seperti Salomo. Mungkin Tuhan mengaruniakan kita sesuatu - seperti talenta, keahlian, jabatan ataupun peluang. Pada awalnya kita memang mempergunakannya dengan maksimal dan setia. Sampai kemudian tawaran kenyamanan, pujian, pengakuan atau bahkan tekanan dari orang-orang terdekat menarik kita untuk lebih mendengarkan "Apa kata mereka."

Perlahan, kita menjadi kompromi. Sedikit demi sedikit, hati kita bergeser. Dan sebelum kita sadar, fokus kita sudah berpindah jauh dari Tuhan. Tentu saja bukan ini yang Tuhan inginkan terjadi atas kita.  Dia mau mendapati kita menjadi pribadi yang setia sampai garis akhir. Karena itu sangat penting untuk kita menjaga telinga kita tetap fokus pada suara-Nya.

 

Action Praktis:

Seperti Raja Salomo, kejatuhan kita sering mulai terjadi saat kita perlahan berhenti menjaga kedekatan dengan Tuhan. Karena itu, mari mulai membangun benteng iman kita dengan menjaga waktu pribadi dengan Tuhan setiap hari - dimulai dari membaca Firman dan berdoa.

Apakah Anda rindu menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat pribadi dalam hidup Anda?

Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”

Apakah Anda sudah mengucapkan doa ini?
Jawaban untuk Kamu! 😊
Halo, Sahabat Jawaban!
Kami ada untuk mendengar, menjawab, mendoakan dan mendampingi perjalanan kamu.

Apa yang bisa kami bantu hari ini?